Showing posts with label Emergency. Show all posts
Showing posts with label Emergency. Show all posts

Penatalaksanaan Gigitan Ular

2 comments

Gigitan ular (health.detik.com)
Diperlukan sikap yang cermat dalam penanganan gigitan ular
Sikap hati-hati dalam penentukan apakah luka gigitan disebabkan ular berbisa atau bukan
Cara menentukan gigitan ular berbisa atau tidak :
  • Ular yang mengigit : Hal ini sangat sulit karena biasanya ular yang menggit tidak berhasil ditemukan
  • Bekas Gigitan

Beda gigitan ular berbisa dengan ular tidak berbisa :

Ular beracun / berbisa:
  • Bekas luka gigitan hanya 2 lubang berjajar
  • Luka bekas gigitan ada gangguan perdarahan
  • Didapatkan ecchymosis
  • Bengkak, didapatkan vesicula sampai dengan nekrosis

Ular tidak beracun / tidak berbisa:
  • Bekas luka gigitan ada 4 lubang berderet
  • Luka berbentuk goresan yang tidak dalam
  • Tidak didapatkan
  • Bisa berupa luka robek

Tanda-tanda klinis
  • Pada ular tak berbisa tidak didapatkan tanda-tanda klinis
  • Pada ular berbisa tanda klinis tampak dalam beberapa menit bergantung pada jenis ular, jumlah toksin yang masuk dan tempat gigitan
Tanda klinis bisa berupa :
a. Lokal
  • Kulit sekitar tampak oedema bisa terlhat vesicle sampai necrosis
  • Perdarahan sulit berhenti atau adanya ecchymosis
  • Kulit menjadi hipersensitif atau kadang anaestesi

b. Sistemik
  • Hemolisis
  • Gangguan pembekuan darah
  • Terjadi perdarahan spontan : epistaksis, hematuria
  • Nyeri kepala
  • Disorientasi
  • Mual, muntah
  • Berkeringat banyak
  • Kejang
  • Nadi meningkat tensi turun
  • Gangguan pernafasan
  • Penurunan kesadaran sampai coma

Penatalaksanaan
  1. Lakukan anamnesa dengan cermat; jenis ular, kapan dan dimana terjadinya
  2. Periksa tempat gigitan dan cari tanda-tanda klinis
  3. Berikan corticosteroid
  4. Berikan antibiotika
  5. Berikan SABU (Serum Anti Bisa Ular) dengan melakukan test kulit terlebih dahulu

PERHATIAN

SABU hanya diberikan bila ada tanda-tanda klinis toksin,
Tidak boleh diberikan untuk profilaksis

Read More......

Penatalaksanaan Gigitan Anjing

0 comments

Gigitan Anjing (article.wn.com)
Gigitan anjing bisa merngakibatkan :
  • Luka tusuk
  • Luka robek
  • Penularan virus Rabies ( yang paling berbahaya )
Perawatan luka :
1. Lakukan pencucian dengan air sabun
2. Pada luka tusuk :
• Lakukan cross incisi
• Cuci dengan perhidrol
• Bilas dengan boorwater
• Lakukan cauterisasi dengan Asam nitrat untuk mematikan virus Rabies

3. Pada luka robek :
• Cuci dengan perhidrol
• Bilas dngan boorwater
• Lakukan debridement
• Cauterisasi dengan Asam nitrat
• Lakukan Penjahitan Luka

Penatalaksanaan untuk mengantipasi Rabies
I. Bila binatang penggigit ditemukan
a. Lapor ke Dinas Kesehatan untuk dilakukan karantina
b. Binatang tetap hidup :
  • Daerah endemik lakukan imunisasi aktif
  • Daerah non endemik tak perlu tindakan
c. Binatang mati : kirim preparat otaknya untuk diperiksa
  • Daerah endemik lakukan imunisasi pasif sambil menunggu hasil pemeriksaan
  • Bila hasil preparat Rabies positif dilanjutkan dengan imunisasi aktif
  • Bila preparat negatif tidak perlu imunisasi lanjutan
  • Daerah non endemik lakukan imunisasi aktif
  • Bila hasil preparat positif diberikan imunisasi pasif
  • Bila negarif tak perlu imunisasi tambahan

II. Bila binatang tak diketemukan
  • Daerah endemis berikan imunisasi pasif
  • Daerah non endemis berika imunisasi aktif

III. Bila binatang terbunuh : kirimkan otaknya untuk diperiksa
  • Daerah endemis berikan imunisasi pasif
  • Daerah non endemis berikan imunisasi aktif

Read More......

Prosedur Penatalaksanaan Luka Gigitan

0 comments

Gambar Luka Gigitan ( bungakurnia.com )
Luka gigitan adalah luka yang diakibatkan oleh gigitan atau sengatan mulai dari mahluk yang paling kecil ( semut ) sampai mahluk yang paling besar ( ikan paus ) atau bahkan oleh mahluk yang beradab yakni manusia.
Akibat gigitan bisa terjadi ;
• Luka
• Infeksi
• Akibat bisa atau racun


Penanganan Luka Gigitan
Secara umum penatalaksanaan meliputi :
A. Perawatan luka :
1. Luka tusuk ( Vulnus ictum )
  • Dilakukan cross incisi untuk membuat suasana aerob
  • Dicuci dengan perhidrol
  • Dibilas dengan boor water

2. Luka terbuka ( Vulnus appertum )

  • Dicuci dengan perhidrol dan boor water
  • Dilakukan debridement
  • Dilakukan Penjahitan Luka

3. Amputasi
  • Dilakukan hemostasis
  • Merawat stomp amputasi

B. Perawatan Infeksi
Perawatan bergantung pada kuman penyebab

C. Perawatan akibat toksin
  • Akibat toksin yang berbahaya adalah distress nafas dan gangguan sirkulasi
  • Perawatan seperti perawatan Basic Life Support
  • Pemberian antidotum

Secara spesifik perawatan Luka Gigitan bergantung pada penyebab gigitan. Untuk Spesifik penanganan luka gigitan dapat di baca di postingan di bawah ini 

Penatalaksanaan Gigitan Anjing
Penatalaksanaan Gigitan Ular

Read More......

Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB)

3 comments


Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB) is abnormal bleeding that occurs within or outside the menstrual cycle, due to malfunctioning of the working mechanism of the hypothalamic-pituitary axis, ovary, endometrium without organic abnormalities of both genital and ekstragenital.

Pathophysiology
Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB) can occur in ovulatory cycles, anovulatorik or in a state with persistent follicles.
In the ovulatory stage, bleeding may occur in mid-menstrual or simultaneously with menstruation. Bleeding is due to the persistent corpus luteum with low estrogen levels, while progesterone continues to form.

In anovulatorik cycle, is common during perimenopause and the reproductive period. The basis of the bleeding that occurs in cycles anovulatorik this is because no ovulation, the corpus luteum is not formed. By itself will be low levels of progesterone and estrogen overload. Because estrogen is high then the excessive proliferation of endometrial experience (hyperplasia). With low levels of progesterone, the endometrial thickness was not followed by the formation of a good buffer, rich in blood vessels and glands. These networks are fragile, easily letting go of the surface, and cause bleeding. Bleeding in one place are recovering, bleeding arise elsewhere, so that bleeding does not occur simultaneously.
So the basic anovulatorik bleeding in this case due to:
  • The endometrium is thick and brittle
  • Release of the endometrium does not coincide
  • No rhythmic vasoconstriction
  • There is no tissue collapse.

Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB) on the state of persistent follicles, often encountered during perimenopause, rare in the reproductive period. Because of the continuous influence of estrogen, endometrial hyperplasia will experience both types of simple hyperplasia, or atypical adenomatus. Adenomatus and atypical types of this malignancy is pembakal (pre-cancerous), so it needs special handling.

Clinical Features
  1. Bleeding can occur at any time in the menstrual cycle
  2. Bleeding can be a little bit, continuous or multiple and repetitive.
  3. Most often encountered during menarche or during perimenopause.


Etiology
The cause of Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB) is known with certainty is difficult
Dysfunctional Uterine Bleeding(DUB) is common in:
  1. Polycystic ovary syndrome (PCOS)
  2. Obesity
  3. Immaturity of the hypothalamic-pituitary axis-the ovaries, for example in pre-menopause.
  4. Psychiatric disorders, and others.


Diagnosis
Anamnesa
It is important to conduct a careful diagnose, to ask the age of menarche, menstrual cycles after menarche, length and amount of menstrual blood. Also need to be asked anyway background and family life back latat emotional.

Examination
General Examination
Aimed to determine the possibility of abnormality is the cause of bleeding. Consider the possibility of metabolic disease, other systemic diseases or chronic diseases including hemostasis disorders.

Gynecological examination
  1. Examination in to get rid of organic abnormalities that can cause abnormal bleeding, for example: cervical polyps, ulcers, injury, erosion, inflammation, tumors, abortion, malignancy, and others.
  2. To make a diagnosis on the girl does not need to be done curette.
  3. In women who are married, curettage should be performed for diagnosis.
  4. On histopathological examination, usually obtained endometrial hyperplasia.


Diagnosis APPEALS
All disorders that can cause abnormal bleeding from the uterus.

Procedure
Managemet
Treatment Principle
  1. Makes the diagnosis of Dysfunctional Uterine Bleeding (DUB), by removing the possibility of organic abnormalities.
  2. Stop the bleeding
  3. Regulate menstruation returned to normal
  4. When anemis (Hb <8 g%) were given transfusions.

Stop the bleeding
  1. Curettage (no need to Hospital Admission, except when going in tranfusion) Done for patients who are married.
  2. Drugs (priority of choice, according to serial number):
a. Estrogen
Usually selected natural estrogen, such as conjugated estrogens (conjugated estrogens), for example: Estradiol valerate (Premarin). Estrogen type is more advantageous, because it does not burden the liver and did not increase levels of renin and blood clotting disorders. Another type of estrogen is ethinyl estradiol. This type of estrogen is metabolized in the liver, so liver function is more disturbing.
Dosage:
  • When bleeding a lot (profus) Hospital Admission, given conjugated estrogen (Premarin) at a dose of 25 mg iv, repeated every 3-4 hours, giving a maximum of 4 times.
  • If the bleeding is not a lot, can be given: 20 mg estradiol Benzoas i.m. Conjugated estrogens 2.5 mg per oral, 7 - 10 days.
b. Combination pill
Purpose: to transform the endometrium into pseudodesidual reaction.
Dosage:
  • When bleeding a lot (profus) can be given 4 x 1 for 70-10 days, followed 1 x 1 for 3-6 cycles.
c. Progesterone
Purpose: to provide the balance of influence of estrogen. Progesterone is a type of progesterone that elected a molecule resembling natural progesterone. Included in this type is Medroksi progesterone acetate (MPA) and Diprogesteron. The type of progesterone that androgenic (testosterone derivatives) are not widely used, because it has androgenic effects (acne, hair growth, etc.), and may decrease HDL cholesterol.
Dosage:
  • MPA 10 -20 mg per day (Primolut N), for 7 - 10 days or Norethisteron 3 x 1 tablet, 70-10 days.
  • If there are contraindications of estrogen, may be given injections of 100 mg im Progesterone, in order to stimulate the endometrium and resilience in vasomotor rhythmic contractions. For this purpose can be used DMPA.
d. Compounds antiprostaglandin
Use antiprostaglandin compound is mainly given to patients with contraindications to estrogen and progesterone, such as liver failure or malignancy. Drugs that are used eg mefenamic acid with a dose of 3 x 500 mg per day. Regulate Menstruation Immediately after the bleeding stops, continue therapy to regulate menstruation.
To set this period can be given:
  • Oral pills for 3-6 months
  • Progesterone 2 x 1 tablet for 10 days, starting on day 14 -15 menstruation.

Read More......

INTOKSIKASI INSEKTISIDA FOSFAT ORGANIK

0 comments


Insektisida adalah bahan yang dipakai manusia untuk membasmi hama serangga
Insektisida yang paling banyak digunakan saat ini adalah :
a. Insektisida Fosfat organik ( IFO : Organo Phosphate Insecticide )
b. Insektisida Hidrokarbon klorin ( IHK : Chlorinated Hydrocarbon )

IFO merupakan insektisida poten yang paling banyak digunakan dipertanian.
Bahan ini dapat menembus kulit yang intact ( normal ), dapat diserap lewat paru dan saluran makanan tetapi tidak terakumulasi dalam jaringan tubuh

IFO bekerja dengan cara menghambat ( inaktivasi ) enzim asetil kholin esterase, sehingga timbul gejala-gejala rangsangan asetil kholin yang berlebihan yang akan menimbulkan efek muskarinik, nikotinik dan SSP ( menimbulkan stimulasi kemudian depresi SSP )
Gambaran klinis yang menonjol adalah kelainan visus, hiperaktivasi kelenjar ludah / keringat / saluran makan dan kesulitan bernafas.
Keracunan ringan :
anoreksia, nyeri kepala, rasa lemah, rasa takut, tremor lidah, tremor kelopak mata, pupil miosis

Keracunan sedang :
nausea, vomiting, kejang/kram perut, hipersalivasi, hiperhidrosis, fasikulasi otot, bradicardia

Keracunan berat :
diare, pupil pin point, reaksi cahaya negatif, sesak nafas, cyanosis, edema paru, inkotinensia urine dan faeces, convulsi, coma, blokade jantung dan akhirnya meninggal.

Prosedur
a. Resusitasi
• Infus Dextrose 5% dengan kecepatan 15 – 20 tetes/menit
• Nafas buatan dan oksigenasi
• Hisap lendir dalam saluran nafas
• Kalau perlu digunakan respirator
• Hindari penggunaan obat-obatan depresan saluran nafas

b. Eliminasi
Emesis, katarsis, kumbah lambung, keramasi rambut dan mandikan seluruh tubuh dengan sabun

c. Antidotum
Atropin sulfat ( SA ) bekerja dengan menghambat efek akumulasi asetil kholin
1. Mula- mula diberikan bolus intra vena 1 – 2,5 mg
2. Dilanjutkan dengan 0,5 – 1 mg setiap 5 – 10 – 15 menit sampai timbul gejala-gejala atropinisasi ( muka merah, mulut kering, tachycardia, midriasis, febris, psikosis )
3. Kemudian interval diperpanjang setiap 15 – 30 – 60 menit selanjutnya 2 – 4 –6 dan 12 jam
4. Pemberian SA dihentikan minimal setelah 2 x 24 jam
Penghentian SA yang mendadak dapat menimbulkan “rebound effect” berupa edema paru dan kegagalan pernafasan akut yang sering fatal

Prognosa
Pada umumnya baik bila pengobatan belum terlambat
Beberapa kesalahan yang sering terjadi yang mengaibatkan fatal adalah :
a. Resusitasi kurang baik dikerjakan
b. Eliminasi racun kurang baik
c. Dosis atropin kurang adekuat
d. Penghentian atropin terlalu cepat


Referensi
- Dreisbach, R.H. and Robertson, W.O : Handbook of Poisoning – Prevention , Diagnosis and Treatment 12th ed.,Prentice- Hall Int.Inc., New Jersey, 1987
- Hernomo K. et al : Buku Petunjuk Penanganan Keadaan Gawat Darurat Medik RS. Dr. Soetomo Surabaya, 1984 ,hal : 28 – 29
- Hernomo K : Keracunan Akut Bahan Kimia. Naskah Lengkap PKB I Laboratorium Ilmu Penyakit dalam FK. UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Surabaya,4 Juli 1987, hal : 103
- Hernomo K : Keracunan Akut Bahan Kimia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya 1988 – 1992. Majalah Ilmu Penyakit Dalam , Surabaya . 19: 191, 1993

Tag : Antidotum Keracunan, Keracunan insektisida, Insecticides, Organic Phosphate Insecticides, Hydrocarbon Insecticides chlorine,rebound effect

Read More......

TRAUMA KEPALA TERTUTUP

0 comments

Trauma kepala tertutup adalah cedera pada kepala/otak tanpa terbukanya rongga kepala terhadap dunia luar. Dalam pengertian tersebut temiasuk kelainan di bawah ini.

"Commotio Cerebri" ( gegar otak ) :
Gangguan fungsi otak akibat trauma/akselerasi - deselerasi kepala.
Dalam hal ini tidak dipermasalahkan cedera anatomis patologis yang terjadi akibat trauma tersebut.

"Contusio Cerebri" ( memar otak ) :
Cedera otak yang berupa pendarahan-pendarahan kecil, edema dan nekrosis dalam jaringan otak.

Bila membran pia-glia terobek disebut Laserasio Cerebri.
Manifestasi klinis memar otak tergantung pada luas serta lokasinya.

Cedera Akson Tersebar :
Mekanisme yang sama seperti pada "commotio cerebri" tetapi tidak dengan intensitas yang lebih besar dapat menimbulkan tidak saja gangguan fungsi tetapi juga kerusakan yang tersebar khusunya disektar otak, periventrikel, korpcs kallosum dan ganglia basal.
Cedera ini disebut cedera akson tersebar.

PATOFISIOLOGI
Cedera otak akibat trauma dapat terjadi karena benturan (impact) atau karena guncangan (bukan impact). Cedera otak terjadi karena kompresi. gerakan otak terhadap tengkorak, timbulnya gelombang kejut pada tempat benturan dan pantulan gelombang ini serta perubahan tekanan pada tempat benturan dan pada tempat yang berlawanan dengan tempat benturan.
Cedera otak akibat trauma adalah cedera neuron, glia dan pembuluh darah kapiler otak.
Cedera tersebut menyebabkan perubahan-perubahan metabolisme dan aliran darah setempat yang gilirannya menambah atau memperluas cedera tersebut (iskemi, infark).
Cedera yang kemudian terjadi disebut cedera otak sekunder.
Disamping itu cedera tersebut mengundang komplikasi-komplikasi :
Edema otak yang pada gilirannya menyebabkan pergeseran otak dan herniasi.
Herniasi menimbulkan kerusakan akibat mekanis dan / atau akibat kompresi vaskuler yang berakibat cedera iskemi yang lebih luas.
Tekanan intrakranial yang sangat tinggi hingga pengurangan aliran darah otak.

* Hematoma subdural, dan hematoma dalam parenkim otak (intraserebral), yang
berikutnya berakibat pergeseran otak dan herniasi.

Gejala klinis terdiri dari gangguan kesadaran, gejala neurologis dan gangguan faal vital sebagai akibat cedera otak yang terjadi.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
  1. Anamnesa : adanya trauma harus dipastikan, dan bukan oleh karena gangguan kesadaran yang menyebabkan penderita terjatuh.
  2. Pemeriksaan umum : faal vital, tanda-tanda cedera bagian lain tubuh.
  3. Tanda-tanda trauma di kepala juga adanya cedera lain di bagian kepala, misalnya patah tulang - tulang muka.
  4. Kesadaran : skala kesadaran dari Glasgow (GCS).
  5. Neurologis : fungsi neurologis untuk menetapkan adanya cedera fokal serta menetapkan letak lesi tersebut.
  6. Refleks-refleks batang otak dicari bila ada kecurigaan mati otak.
  7. Dalam praktek penetapan diagnosis "commotio cerebri" dan “ contusio cerebri “didasarkan pada keadaan klinis
  8. Bila gangguan kesadaran dengan cepat pulih (GCS. 15) dan tidak didapati defisit neurologis maka diagnosis ditulis sebagai "commotio cerebri".
  9. Diagnosis ini tidak menutup kemungkinan adanya cedera otak. memar laserasi yang tidak manifes secara klinis.
  10. Bila gangguan kesadaran berkepanjangan dan / atau terdapat gejala neurologis foka! sebagai cerminan cedera otak. maka diagnosis ditetapkan sebagai "contusio cerebri".
  11. Hematoma intrakranial sebagai komplikasi intrakranial di diagnosis atas dasar klinis
  12. dan dipastikan dengan CT dan / atau pengeboran eksploratif.
  13. Sarana Pemeriksaan Tambahan:
  • Foto kepala diperlukan terutama pada fraktur impresi dan pada penetapan lokasi pengeboran eksploratif dan menetapkan cedera coup atau kontra coup.
  • CT Scan sesuai pembatasan (indikasi) yang ditetapkan.


DIAGNOSIS BANDING
Penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan gangguan kesadaran secara akut misalnya CVA trombotik ataupun hemoragik, dan serangan epilepsi.

PENYULIT:
Edema otak, hematoma intrakranial, sindrom distres napas, epilepsi traumatik, gangguan hormonal, gangguan faal hemostasis, hidrosefalus dan lain-lain.

PENATALAKSAAN
Dalam penatalaksanaan dipakai gradasi ringan, sedang, berat sebagai benkut:


GRADE DERAJAT
GCS
KRITERIA
I. Ringan 14-15 Hilang kesadaran sekejap (transient) pada pemeriksaan sadar, tanpa gejala neurologis
II. Sedang 09-13 Hilang kesadaran sementara pemeriksaan dapat mengikuti perintah sederhana.
III. Berat 04-08
Tidak sadar, saat dlperiksa tidak dapat mengikuti perintah, respon verbal tidak tepat, pupil isokor atau anisokor, mungkin Juga tidak bereaksi terhadap cahaya Respon motorik: melokalisir nyeri atau lebih rendah.
IV. Mati Otak Kurang 3 Tak ada tanda adanya fungsi otak.

Di kamar bebat IRD dilakukan :
  1. Pemeriksaan dan seleksi penderita
  2. Penanganan, pemulihan stabilitas fungsi vital
  3. Perawatan luka-luka dan tindakan lain yang diperlukan.
Penderita-penderita yang sadar, tanpa gejala neurologis serta tanpa faktor resiko lain dapat diobservasi di UGD dan dipulangkan dengan nasehat bila ada penurunan kesadaran atau gejala lain akibat trauma kepala harap segera kembali ke Rumah Sakit.
Penderita yang sadar tetapi dengan faktor resiko seperti patah tulang kepala, cedera di bagian lain dari tubuh, gangguan faal vital, muntah yang sering, atau tidak adanya orang lain yang dapat mengawasinya di tempat tinggalnya. perlu dirawat tinggal, terutama untuk observasi.
Penderita yang tidak sadar, mutlak perlu rawat tinggal.


Di ruang perawatan:
  • Lanjutan observasi.
  • Optimalisasi; stabilitas dan pengendalian faal vital (sirkulasi dan pernafasan).
  • Sirkulasi : infus. cairan disesuaikan menurut kebutuhan, tidak overhidrasi. pengendalian elektrolit.
  • Pernafasan : menghisap sektret, darah, muntahan. trakeostomi menurut indikasi .
  • Nutrisi, lewat pipa lambung atau oral menurut keadaan penderita..
  • Cairan hipertonik dipakai menurut indikasi : pada keadaan yang mengancam jiwa karena tekanan intrakranial yang meningkat dan pada penderita yang disiapkan operasi.


Read More......

PENATALAKSANAAN ANAFILAKSIS

0 comments

PENGERTIAN
Anafilaksis Adalah suatu reaksi alergi yang terjadi akut, segera dan hebat, sebagai akibat kontak dengan alergen.

PATOFISIOLOGI :
Anafilaksis terjadi sebagai akibat dari interaksi antigen-antibodi ( golongan IgE ).
IgE ini melekat pada permukaan sel basofil dan mastosit. Setelah kontak dengan alergen, basofil dan mastosit mengeluarkan mediator : histamin, SRS-A, kinin, ECF-A. Mediator-mediator ini memberi efek farmakologis : mengaktivasi mediator-mediator lain dan refleks-refleks sehingga terjadi gambaran klinis anafilaksis.Alergen dapat masuk tubuh melalui hirupan, suntikan, per oral, maupun inokulasi.Alergen dapat berupa :
a.Bahan-bahan untuk pengobatan :

  1. Antibiotika ( Penicillin )
  2. Zat putih telur asing ( insulin, ACTH, serum heterolog, ATS, ADS, SABU ).
  3. Ekstrak alergen ( untuk uji kulit dan imunoterapi ).
  4. Darah dan komponen-komponennya.
  5. Cairan ( Dekstran )
  6. Dan lain-lain.
b. Makanan, misalnya buah-buahan, susu, telur, ikan, kacang.
c. Bahan-bahan untuk diagnostik ( media kontras ).
d. Sengatan/gigitan serangga ( lebah ).
e. Dan lain-lain

GEJALA KLINIS :
Anafilaksis merupakan reaksi alergi sistemik. Walaupun kadang-kadang didahului oleh rasa tidak enak/takut, secara akut dan segera dapat timbul :
  1. Obstruksi jalan napas atas ( sembab larynx ) dan bawah ( asma ), disusul renjatan kardiovaskuler secara sekunder.
  2. Secara primer timbul renjatan tanpa didahului gejala-gejala pernapasan.
  3. Rasa gatal, kemerahan seluruh tubuh dan pembengkakan tanpa menjadi lebih hebat ( urtikaria dan sembab angioneurotik ).
DIAGNOSA :
Diagnosa dapat dibuat apabila setelah kontak ( expossure ) dengan antigen segera timbul gejala sesak napas dan renjatan.

DIAGNOSA BANDING :
Renjatan anafilaktik harus dibedakan dari renjatan karena sebab lain. Renjatan-renjatan ini biasanya tidak terjadi begitu mendadak.

PENATALAKSANAAN :
Dalam penatalaksanaan renjatan anafilaktik, urutan tindakan perlu diperhatikan.
  1. Adrenalin 1 : 1000 dengan dosis 0,01 ml/ kg BB, subkutan ( maksimal 0,3 ml ).
  2. Pasang tourniquet pada bagian pangkal dari tempat masuknya alergen ( gigitan serangga, suntikan obat ).
  3. Beri Adrenalin 0,1 – 0,3 ml subkutan pada tempat masuknya alergen bila alergen telah diberikan / masuk secara subkutan.
  4. Bila perlu pemberian Adrenalin dapat diulang setiap 15 – 20 menit.
  5. Beri zat asam dengan nose prong atau sungkup 2 – 3 L/menit.
  6. Beri Diphenhydramin 2 mg/ kg BB intravena atau intramuskular, dilanjutkan dengan 3 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi 3 dosis.
  7. Pasang infus dan beri NaCl 0,9%. Bila terjadi hipotensi atau tekanan darah tidak terukur, beri NaCl 0,9% 20 – 40 ml/ kg BB dalam 1 – 2 jam.
  8. Bila perlu tambahkan plasma atau cairan ekspander lain 10 – 20 ml/kg BB dalam 1–2 jam.
  9. Pemberian Kortikosteroid :
    • Hidrokortison 4 – 7 mg/ kg BB secara intravena, dilanjutkan dengan 4 – 7 mg/ kg BB/ 24 jam dibagi dalam 3 – 4 dosis selama 24 – 48 jam, atau
    • Metil prednisolon 1/5 dosis hidrokortison, atau
    • Deksametason 1/25 dosis hidrokortison.
  10. Beri Aminofilin bila ada tanda-tanda obstruksi jalan napas bagian bawah ( asma ) dengan dosis 7 mg/ kg BB dilarutkan dalam 10 – 20 ml NaCl 0,9% secara intravena dalam waktu 10 – 20 menit, dilanjutkan dengan 9 mg/ kg BB dibagi 3 – 4 dosis.
  11. Bila nadi dan tekanan darah sudah stabil, infus diganti dengan Dekstrose 5% dalam 0,45% NaCl 1 – 1,5 kali kebutuhan rumatan.
KOMPLIKASI :
  1. Obstruksi jalan napas bagian atas ( sembab larynx )--> Pasang pipa endotracheal atau tracheostomi.
  2. Obstruksi jalan napas bagian bawah ( asma ) -->Beri : Aminofilin, Hidrokortison, Terbutalin atau pasang ventilator.
  3. Renjatan berkepanjangan :
  4. Beri cairan intravena NaCl 0,9% atau koloid.
  5. Kadang-kadang perlu diberi Adrenalin intravena dengan dosis 1 ml larutan 1 : 10.000 dengan sangat hati-hati. Cara membuat larutan : 1 ml larutan 1 : 1000 dilarutkan dalam 10 ml NaCl 0,9%.
  6. Kadang-kadang perlu diberi obaobat vasopresor, seperti Norepinephrin, Metaraminol, dan Dopamin.
  7. Bila renjatan belum membaik, ukur CVP.
  8. Bila tekanan <> 12 mm Hg, beri Isoproterenol.
  9. Pemantauan ECG.
  10. Jantung berhenti :
    • Lakukan pijat jantung.
    • Beri napas buatan.
    • Beri NaBic.
Tag : Penatalaksanaa anafilaktik, protap anafilaktik, prosedur tetap anafilaktif, anafilaksis

Read More......

Baca Juga

First Aid

Popular Posts

Terbaru

Baca Juga

Followers

Statistic

Free Page Rank Tool TopOfBlogs

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Copyright@2009-2012 By Penatalaksanaan Medik | supported by Nurse | Powered By Blogger
Home | Gawat Darurat | Prosedure | Tinjauan Medis | Picture
Contact | Privacy Policy