PROSEDUR PENATALAKSANAAN RINITIS ALERGI

0 comments

BATASAN

Suatu reaksi abnormal (hipersensitif) yang bersifat khas, yang timbul pada penderita atopi, bila terjadi kontak dengan suatu bahan (antigen/alergen) yang pada orang normal tidak menyebabkan reaksi apapun. Reaksi yang dimaksud ialah bersin-bersin paroksismal, pilek encer, dan hidung buntu.



ETIOLOGI
Alergen:
  • Inhalan : debu rumah, debu kapuk, jamur, bulu hewan, dsb.
  • Ingestan : buah, susu, telur, ikan laut, kacang-kacangan dsb.

PATOFISIOLOGI
Sebagai manifestasi reaksi antigen antibodi pada hidung sebagai "shock organ", timbul dilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah kapiler, sehingga timbul oedema Karena terjadi peningkatan sekresi kelenjar, maka timbul sekresi yang encer.
Terjadi penumpukan eosinofil di daerah reaksi dan sekitarnya.

GEJALA KLINIK
  • Serangan timbul bila terjadi kontak dengan alergen penyebab.
  • Didahului rasa gatal pada hidung, mata, atau kadang-kadang palatum mole.
  • Bersin-bersin paroksismal, pilek encer dan buntu hidung.
  • Gangguan pembauan, mata sembab dan berair, kadang-kadang disertai sakit kepala.
  • Mungkin ada manifestasi alergi pada organ lain.
  • Tidak ada tanda-tanda infeksi ( misalnya panas badan ).
  • Mungkin ada riwayat alergi pada keluarga.

DIAGNOSIS
1. Anamnesis yang lengkap dan cermat.
2. Pemeriksaan:
Rinoskopi anterior : konka oedema dan pucat, sekret seromusinus.
Pemeriksaan tambahan:
  • Eosinofil sekret hidung. Positif bila >= 25 %.
  • Eosinofil darah .Positif bila > 400 / mm.
  • Teskulit: "Prick test".
  • X foto Water’s, bila dicurigai adanya komplikasi sinusitis.
  • Bila diperlukan dapat diperiksa: * IgE total serum ( RIST dan PRIST ). Positif bila > 200 IU.
  • Ig E spesifik ( RAST ).

DIAGNOSIS BANDING
  1. Rinitis akut ("Infectious Rhinitis"): ada keluhan panas badan, mukosa hiperemis, sekret mukopurulen.
  2. Rinitis karena Iritan ("Irritan Contact Rliinitis") : karena merokok, iritasi gas, bahan imia, debu pabrik, bahan kimia pada makanan.
  3. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis yang cermat, pemeriksaan alergi yang negatif.
  4. Rinitis medikamentosa ("Drug Induced Rhinitis") : karena penggunaan tetes hidung dalam jangka lama, reserpin, klonidin, alfa metildopa, guanetidin, klor promasin, dan fenotiasin yang lain.
  5. Rinitishormonal("HormonallylnducedRliinitis"): Pada penderita hamil,hipertiroid, penggunaan pil KB.
  6. Rinitis vasomotor

PENYULIT
  • Sinusitis paranasal (tersering sinusitis maksilaris).
  • Polip hidung.
  • Otitis media.

TERAPI
1. Hindari alergen penyebab.
2. Simtomatik:
  • Antihistamin ( pada saat serangan dapat dipakai CTM 3 x 2-4 mg atau Loratadin/ Astemizole 1 x 10 mg sehari ).
  • Kortikosteroid (Deksametason, Betametason), ingat kontra indikasi.
  • Diberikan dengan "tappering off".
  • Dekongestan lokal: tetes hidung. Larutan Efedrin 1/2-1%, atau Oksimetazolm 0.025% - 0.05%, bila diperlukan, dan tidak boleh lebih dan seminggu.
  • Bila perlu buntu hidung dapat diterapi dengan kaustik konka inferior.
  • Dekongestan oral: Psedoefedrin, 2 - 3 x 30 - 60 mg sehari.
3. Meningkatkan kondisi tubuh:
  • Olah raga pagi.
  • Makanan yang baik.


Read More......

PENANGANAN INTOKSIKASI BAHAN KIMIA AKUT

0 comments

Intoksikasi bahan kimia adalah suatu kondisi keracunan akibat masuknya bahan kimia tertentu ke dalam tubuh yang menyebabkan timbulnya kelainan pada tubuh.
Intoksikasi obat dapat timbul akut atau kronis. Dapat terjadi akibat bunuh dini ( tentamen suicide ) atau pembunuhan ( homicide ), maupun kecelakaan tidak sengaja ( accidental ).
Pada orang dewasa keracunan obat umumnya akibat usaha bunuh diri, kebanyakan dilakukan oleh wanita muda ( usia 10 – 30 tahun ). Sedang pada anak-anak kebanyakan karena kecelakaan

Etiologi

Penyebab terbanyak adalah insectisida fospat organik ( IFO ), sedativa- hipnotika dan analgetika, minyak tanah , bahan korosif, dan pestisida lain ( hido karbon clorin dan racun tikus )
Prosedur Penatalaksanaan
Diagnosa tidak selamanya mudah. Harus selalu dipikirkan pada setiap penderita yang sebelumnya tampak sehat, mendadak timbul gejala-gejala koma, kejang-kejang, shock, cyanosis, psikosis akut, GGA, atau gagal hati akut tanpa diketahui penyebabnya



1. Anamnesa
Biasanya hetero anamnesa karena penderita biasanya tidak sadar atau malu berterus terang
Usahakan mendapatkan :
• Nama bahan
• Jumlah bahan
• Saat penderita minum obat
• Cari bekas-bekas bungkus/kemasan obat (bahan kimia)
• Tempat / botol obat
• Resep terakhir
• Surat-surat yang baru saja ditulis

Tanyakan apakah ada :
  • Riwayat perselisihan dengan keluarga, teman dekat , teman sekantor
  • Masalah ekonomi yang berat

2. Pemeriksaan fisik
• Ukur tekanan darah
• Nadi
• Suhu
• Frekwensi pernafasan
• Tentukan tingkat kesadaran

Sifat gangguan kesadaran penderita
Koma yang tenang biasanya akibat golongan sedativa- hipnotika
Bila disertai gelisah sampai kejang-kejang dapat disebabkan oleh alkohol, INH, insectisida golongan hidrokarbon chlorin
Perlu diperhatikan adanya :
• Luka- luka di sekitar mulut
• Bau nafas yang khas
• Adanya hyper salivasi
• Hyperhidrosis
• Pupil yang miosis

3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin biasanya tidak banyak membantu
Pemeriksaan toksikologi
Penting untuk kepastian diagnosa terutama untuk keperluan visum et repertum
  • Bahan diambil dari
  • Muntahan penderita atau dari kumbah lambung yang pertama sekitar 100 ml
  • Urine sebanyak 100 ml
  • Darah tanpa anti koagulan sebanyak 10 ml
Sisa bahan kima atau sisa obat yang diduga menjadi penyebab keracunan

Penatalaksanaan
1. Pertolongan pertama ( “ First aid “ )
Sangat tergantung pada cara racun masuk ke dalam tubuh penderita
a. Racun yang tertelan
  • Segera baringkan penderita pada tempat datar
  • Usahakan secepatnya memuntahkan racun dengan cara :
  • Merangsang faring dengan ujung telunjuk, pangkal sendok
  • Memberi minum 15 – 30 ml sirop Ipecac diikuti ½ gelas air minum diulang setelah 15 menit
  • Berikan Norit sebanyak 25 – 40 gram

Kontra indikasi :
  • Kejang
  • Koma
  • Tertelan bahan korosif ( asam atau basa kuat )
  • Bahan minyak (minyak tanah, bensin, minyak cat atau thinner)

b. Racun yang dihirup
  • Bawa penderita ke udara bebas
  • Berikan oksigen secepatnya
  • Bila perlu lakukan pernafasan buatan
c. Keracunan melalui kulit
  • Bersihkan kulit yang terkena secepatnya dengan air mengalir
  • Selama melepas pakaian penderita tubuh penderita tetap diguyur dengan air
  • Kulit yang terkena disabuni sebersih mungkin
  • Keramasi rambut penderita

d. Keracunan melalui mata
  • Lipat kelopak mata keluar
  • Segera bersihkan mata dengan air mengalir sekitar 15 menit dengan semprotan atau tetes mata
2. Penatalaksanaan darurat ( umum atau khusus )

Dikerjakan bersama-sama dengan tindakan diagnostik
Tujuan
  • Mempertahankan kehidupan penderita
  • Mencegah penyerapan racun dengan cara menghambat absorbsi
  • Menghilangkan racun dari dalam tubuh

Resusitasi ( ABC )
A ( airway ) :
  • Bebaskan jalan nafas dari sumbatan :
  • Bahan muntahan
  • Lendir
  • Gigi palsu
  • Pangkal lidah
  • Kalau perlu dengan pemasangan Mayo dan penggunaan Suction pump

B ( breathing ) :
  • Jaga agar pernafasan tetap dapat berlangsung dengan baik
  • Bila perlu berikan nafas buatan

C ( circulation ) :
  • Tekanan darah dan nadi dipertahankan dengan infus RL atau PZ dengan tetesan 15 – 20 tetes/ menit kalau perlu dengan kecepatan tinggi
  • Bila perlu lakukan pemberian cairan koloid sebanyak 500 – 1000 ml dala 24 jam
  • Bila terjadi “ cardiac arrest lakukan pijat jantung ekternal ( CPR )

Eliminasi
Tujuannya :
  • Menghambat penyerapan lebih lanjut
  • Menghilangkan bahan racun atau hasil metabolismenya dari tubuh penderita
  • Tindakan ini dikerjakan dengan :

Emesis :
  • Merangsang penderita supaya pada penderita yang sadar atau dengan memberikan syrup Ipecac 15 – 30 ml
  • Dapat diulang setelah 20 menit bila masih belum berhasil
  • Karbon aktif ( Norit ) baru bleh diberikan setelah emesis terjadi
  • Bila emesis berhasil dikerjakan dalam waktu 1 jam setelam keracunan 30 – 60 % racun dapat dieliminasi
  • Bila baru berhasil setelah lebih dari 1 jam efektivitasnya <>
  • Kontra indikasi :
  1. Kesadaran menurun
  2. Keracunan bahan korosif
  3. Keracunan minyak tanah
  4. Keracunan obat-obat yang dapat menimbulkan convulsi

Katarsis ( “ Intestinal lavage “ )
  • Dilakukan dengan pemberian laksansia
  • Terutama untuk racun yang tidak dapat diserap melalui saluran cerna atau jika diduga racun telah mencapai usus halus atau colon
  • Laksansia yang aman dipakai :
  1. Na sulfat : 30 gram dalam 200 – 250 ml air
  2. Na fosfat ( “ Fleet’s Phospho soda “ ) : 15 – 60 ml diencerkan sampai seperempatnya
  3. Sorbitol atau Manitol ( 20 – 40 % ) : 100 – 200 ml
  4. Castor oil : 15 – 30 ml ( kontra indikasi pada keracunan “ Chlorinated insectisides “ )

3. Perawatan jiwa

Referensi
  1. Dreisbach, R.H. and Robertson, W.O : Handbook of Poisoning – Prevention , Diagnosis and Treatment 12th ed.,Prentice- Hall Int.Inc., New Jersey, 1987
  2. Hernomo K. et al : Buku Petunjuk Penanganan Keadaan Gawat Darurat Medik RS. Dr. Soetomo Surabaya, 1984 ,hal : 28 – 29
  3. Hernomo K : Keracunan Akut Bahan Kimia. Naskah Lengkap PKB I Laboratorium Ilmu Penyakit dalam FK. UNAIR – RSUD Dr. Soetomo Surabaya,4 Juli 1987, hal : 103
  4. Hernomo K : Keracunan Akut Bahan Kimia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya 1988 – 1992. Majalah Ilmu Penyakit Dalam , Surabaya . 19: 191, 1993



Tag : Definisi intoksikasi, etiologi, keracunan, keracunan bahan kimia, penatalaksanaan keracunan

Read More......

PROSEDUR PENATALAKSANAAN ILEUS OBSTRUKSI

0 comments


1. Definisi
BATASAN

Ileus Obstruksi Adalah gangguan pasase isi usus secara normal ke rektum karena hambatan ekstrinsik atau intrinsik, baik pada usus kecil maupun pada usus besar.

PATOFISIOLOGI
Obstruksi usus menyebabkan reaktif hiperperistaltik, distensi lumen usus oleh gas dan cairan dan pertumbuhan kuman-kuman. Transudasi cairan kedalam lumen usus menyebabkan shock hipovolemik.
Kehilangan cairan asam lambung dan klorida pada obstruksi daerah pilorus atau jejunum proksimal menyebabkan alkalosis metabolik.
Metabolik asidosis terjadi pada obstruksi usus distal.
Pada “Closed loop obstruction” dapat terjadi gangren dan perforasi dari usus.

GEJALA KLINIS
Kolik, borborigmi dan bising usus meningkat. Didapatkan kontur dan “steifung” disertai obstipasi dan distensi. Pada obstruksi proksimal muntah terjadi lebih dini, sedang pada obstruksi distal muntah terjadi lebih lambat.
Didapatkan dehidrasi dan febris. Bila obstruksi disertai dengan strangulasi dirasakan nyeri hebat yang terlokalisir, terus menerus dan keadaan umum yang cepat menurun.
Pada pemeriksaan colok dubur didapatkan rektum yang kosong.

PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS
  • Foto polos abdomen dengan posisi tegak atau lateral dekubitus tampak distensi usus proksimal dari hambatan dan fenomena anak tangga. Pada volvulus sigmoid tampak sigmoid yang distensi berbentuk U yang terbalik.
  • Pada dugaan tumor kolon dapat dibuat foto barium enema.
Penyebab ileus obstruksi yang paling sering dijumpai di Indonesia :
  1. Hernia inguinalis lateralis inkarserata
  2. Pelekatan (streng)
  3. Keganasan usus besar
  4. Pada anak-anak sering dijumpai kelainan kongenital
  5. Kelainan lain adalah volvulus, invaginasi dan lain-lain.
Pada ileus obstruksi perlu dibedakan antara yang tanpa strangulasi (simpel) dan yang disertai strangulasi.

DIAGNOSIS BANDING
  • Ileus paralitik
  • Oklusi vaskuler usus akut.




PENYULIT
Bila disertai strangulasi dapat terjadi gangren usus.
Cepatnya penanganan sangat menentukan prognosa penderita.



2. Prosedur

PENATALAKSANAAN
  1. Dekompresi dengan pipa lambung
  2. Pemasangan infus untuk koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. Juga keseimbangan asam-basa.
  3. Koreksi bedah. Tindakan bedah yang dilakukan sesuai dengan kelainan patologinya.
  4. Antibiotika profilaksis atau terapeutik tergantung proses patologi penyebabnya.

3. Referensi
  1. Condon, R.E., Nyhus, L.M. : Manual of Surgical Therapeutics. 7th edition., Little Brown & Coy, Boston, 1988, pp. 273 – 290.
  2. Dudley, H.A.F. : Hamilton Bailey’s Emergency Surgery. 11th edition., Wright, Bristol, 1986, pp. 353 – 374.
  3. Way, L.W. : Current Surgical Diagnosis and Treatment. 9th edition., Prentice Hall International Inc., 1991, pp. 610 – 611, 613 – 618, 626 – 629, 640 – 643.

Read More......

PROSEDUR TETAP ABSES PARU

0 comments


BATASAN
Adalah lesi supuratif yang disertai dengan nekrosis jaringan di dalamnya.

ETIOLOGI

Kuman penyebab biasanya terdiri dari campuran kuman aerob dan anaerob seperti : peptokokus, peptostreptokokus, fusobakterium spp, bakteroides spp, yang merupakan flora dari orofaring.
Abses dapat terjadi karena : aspirasi, penyulit pneumonia, luka trauma paru yang terinfeksi, dan infark paru yang terinfeksi atau berasal dari empiema.
Dalam pembicaraan selanjutnya hanya abses paru yang disebabkan oleh aspirasi yang akan diuraikan lebih lanjut.

PATOGENESA
Infeksi akan mudah timbul bila ada faktor predisposisi, seperti :
  1. Adanya sumber infeksi dari saluran napas yaitu infeksi mulut, tumor laring yang terinfeksi, bronkiektasis yang terinfeksi, dan tumor paru yang terinfeksi.
  2. Daya tahan saluran napas yang menurun, karena adanya gangguan seperti paralisis laring, kesadaran penderita yang menurun, akalasia, karsinoma esofagus, dan gangguan ekspektorasi.
  3. Obstruksi mekanik saluran napas oleh karena aspirasi bekuan darah, pus, gigi, muntahan, tumor bronkus.
Bahan yang terhisap akan masuk ke dalam paru yang letaknya lebih rendah ( gravity dependent segmen ). Pada posisi tegak aspirat akan menuju segmen basal dari lobus inferior, terutama yang kanan, tetapi bila aspirasi terjadi pada waktu tidur terlentang aspiratnya akan menuju ke segmen posterior lobus superior dan segmen superior lobus inferior.
Proses dimulai sebagai suatu pneumonia dan bila tidak mendapat pengobatan yang memadai, maka proses akan berkembang menjadi “necrotizing pneumonia” atau abses paru.
PATOLOGI
Kavitas yang terjadi akibat nekrosis jaringan, dikelilingi dinding tebal dan radang paru sekitarnya. Biasanya kavitas mempunyai hubungan dengan bronkus.

GEJALA KLINIS
Batuk, dahak berbau busuk, panas badan, nyeri pleuritik, badan tambah kurus, berkeringat malam. Perjalanan penyakit yang khas adalah kronik dan lambat ( chronic and indolent ) yang berpotensi untuk terjadinya penyulit yang mendadak dan gawat seperti abses otak, batuk darah profus, piopneumothoraks.
DIAGNOSA
Diagnosa abses paru akibat aspirasi ditegakkan dengan :
  1. Adanya riwayat aspirasi terutama pada penderita-penderita dengan gangguan kesadaran, gangguan menelan. Tetapi pada keadaan tidur sering terjadi aspirasi yang tidak disadari. Keadaan predisposisi lain untuk infeksi anaerob.
  2. Gejala klinis yang khas : perjalanan penyakit yang kronis dan indolent. Batuk dengan dahak purulent berbau busuk.
  3. Kelainan di satu tempat di paru sesuai dengan posisi penderita pada waktu terjadi aspirasi.

Pemeriksaan Fisik
Dijumpai tanda-tanda konsolidasi dan tanda adanya kavitas di daerah yang sakit.
Inspeksi : pergerakan pernapasan menurun
Palpasi : fremitus raba meningkat pada daerah sakit. Kadang-kadang teraba gesekan pleura.
Perkusi : terdengar keredupan pada daerah sakit.
Auskultasi : pada daerah sakit terdengar suara napas bronkial. Disertai suara tambahan kasar sampai halus. Di atas kavitas akan terdengar suara amforik.
Laboratorium :
- Darah tepi : lekosit meningkat sedang 12.000 – 20.000/ml LED meningkat Anemia.
- Dahak : pengecatan Gram didapatkan banyak PMN, serta bakteri dari bermacam jenis.
X foto dada : tampak adanya konsolidasi dari sebagian atau satu lobus yang di dalamnya terdapat “air fluid level”.

DIAGNOSA BANDING
  1. Tuberkulosis paru biasanya tidak disertai “air fluid level”
  2. Karsinoma bronkogenik yang mengalami nekrosis. Dinding kavitas tebal, tidak rata.
  3. Bulla atau kista yang terinfeksi ditandai dengan dinding tipis, disekitarnya tidak ada reaksi radang.
  4. Hematom paru ditandai dengan adanya riwayat trauma, tidak ada gejala infeksi.
  5. Skwester paru yang mengalami pembentukan abses. Tidak ada hubungan dengan bronkus ( bronkografi ).
  6. Pneumokoniosis yang mengalami kavitasi dan ditandai dengan adanya “simple pneumoconiosis” disekitarnya.
  7. Hiatus hernia. Pada hiatus hernia, tidak ada gejala yang berasal dari paru. Dijumpai adanya nyeri retrosternal dan rasa panas yang dirasakan di hulu hati ( heart burn ). Nyeri ini akan bertambah berat kalau penderita membungkuk.

KOMPLIKASI
  • Batuk darah profus
  • Empiema atau piopneumothoraks
  • Abses otak
  • Anemia, kaheksi dan amiloidosis dapat timbul pada penyakit menahun.
PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan umum :
Memperbaiki keadaan umum penderita dengan diit TKTP dan minum yang banyak.
a. Antibiotika.
  • Prokain penisilin G diberikan 1,2 juta unit i.m. setiap 12 jam + Kloramfenikol 500 mg setiap 6 jam selama 10 – 15 hari. atau
  • Prokain penisilin G 1,2 juta unit i.m. setiap 12 jam + Metronidazol 500 mg tiap 6 jam selama 10 – 15 hari. atau
  • Klindamisin 600 mg tiap 8 jam selama 10 – 15 hari.
b. Drainage postural dan fisioterapi.
Posisi tubuh diatur sedemikian rupa sehingga pus dapat keluar dengan sendirinya ( akibat gaya berat ) atau dengan bantuan fisioterapis.


2. Penatalaksanaan khusus :
a. Bronkoskopi
Bila pus sukar keluar, maka perlu dilakukan bronkoskopi untuk membersihkan jalan napas dan menghisap pus.
b. Pembedahan
Bila kemoterapi gagal. Abses menjadi menahun, kavitas tetap ada dan produksi dahak tetap ada sedangkan gejala klinis masih ada setelah terapi yang memadai selama 6 minggu atau adanya sisa jaringan parut yang luas sehingga dapat mengganggu faal paru. Hal ini semuanya merupakan indikasi tindakan bedah.
PROGNOSA
Bila pengobatan yang tepat, tidak terlambat diberikan maka prognosanya baik.

Read More......

PROSEDUR TETAP POST DATE

0 comments


BATASAN
Kehamilan Post Date ialah: Kehamilan yang lamanya melebihi 42 minggu (294 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir atau 14 hari setelah perkiraan tanggal persalinan yang dihitung menurut rumus NAEGELE, dengan asurnsi siklus haidnya 28 hari.

PATOFISIOLOGI

  • Penyebab post date itu sendiri masih belum jelas.
  • Resiko terhadapjanin disebabkan oleh karena proses penuaan plasenta sehingga terjadi gangguan fungsi plasenta (insufisiensi)
  • Insufisiensi nutrisi yang bisa mengakibatkan IUGR ("intra uterine growth Retardation")
  • Insufisiensi respirasi yang bisa mengakibatkan hipoksia janin.

DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN
  1. Untuk membuat diagnosis kehamilan postdate diperlukan kecermatan dalam menentukan usia kehamilan yang tepat.
  2. Apabila tidak dilakukan pencatatan pada usia kehamilan muda maka akan terlambat untuk mengatakan suatu kehamilan menjadi postdate.
  3. Menentukan usia kehamilan secara tepat memang tidak mudah terutama bila Hari Pertama Menstruasi terakhir tidak jelas.
  4. Data lain yang mungkin dapat membantu dalam menentukan umur kehamilan ialah riwayat penggunaan obat-obat induksi ovulasi, pemakaian hormonal kon trasepsi dan saat mulai dirasakannya gerakan janin oleh si ibu ("Quikening")
  5. Pengukuran fundus uteri setinggi umbilikus pada kehamilan 20 minggu dapat dipakai sebagai indikator dalam menentukan umur kehamilan.
  6. Pemeriksaan USG menjadi "gold standard" untuk mengkonfirmasi anamnesa dan pemeriksaan fisik.

Contoh:
  • Hari pertama haid terakhir (LMP) : 10-6-92
  • Siklus haid: 28 hari
  • Taksiran persalinan (EDC) : 17-3-93 (menurut rumus NAEGELE)
  • Post date: Kehamilan 2 minggu setelah 17-3-93 --> 2 minggu
  • 10-6-92 --------- 17-3-93 ------------------ Post Date --> LMP EDC 294 hari / 42minggu

Pemeriksaan Penilaian Kesejahteraan Janin
(Mulai dikerjakan pada usia kehamilan 41 mmggu)

  • USG :Pengukuran biometrik janin / letakplasenta. Deteksi kelainan cacat bawaan, pengukuran jumlah air ketuban dengan "Amnotik fluid index”(AFI).
  • Pemantauan detik Jantung Janin:" Non Stress Test "(NST) / "Stress Test".
  • Penentuan maturasi janin dengan pemeriksaan cairan ketuban (“shake test” atau L/S rasio) harus dikerjakan bila pemeriksaan USG menunjukkan usia kehamilan 35 minggu.Dilakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan Skor pelvik (PS) menurut cara Bishop.
  • Amnioskopi imtuk menentukan warna air ketuban (bila mana perlu dilakukan amniotomi).

PENATALAKSANAAN
Pada dasarnya penatalaksanaan post date adalah : Merencanakan pengakhiran kehamilan.
Cara pengakhiran kehamilan: berdasarkan hasil penilaian kesejahteraanjanin.

1. Penilaian Kesejahteraan Janin jelek:
a. BilaSkorpelvik: matang (>5)
-->Amniotomi: jernih ------------- Drip oksitosin
-->keruh -------------- SeksioSesar
b. Bila Skor Pelvik belum matang ( <> 5)
Amniotomi ------ jernih ------- Drip oksitosin
keruh ------- Seksio Sesar

2. Bila Skor Pelvik belum matang ( <> 5) (lihat bagan hasil penilaian kesejahteraan janin baik)

3. Penilaian Kesejahteraan Janin baik
Bila Skor Pelvik: matang ( > 5) drip oksitosin tanpa amniotomi
Bila Skor pelvik belum matang (PS <> 5 untuk dilakukan drip oksitosin Bila hasil penilaian kesejahteraan janin secara serial ragu-ragu atau jelek lihat bagan penilaian kesejahteraan janin ragu-ragu atau jelek.

CATATAN;
  1. Bila drip oksitosin dinyatakan gagal pada kasus-kasus dengan amniotomi dilakukan seksio sesar, pada kasus-kasus tanpa amniotomi keesokan harinya dilakukan penilaian kesejahteraan janin ulang kemudian dilihat hasil penilaian kesejahteraan janin dan diikuti bagan skema penilaian kesejahteraanjanui seperti diatas.
  2. 2. Yang dimaksud dengan hasil penilaian kesejahteraan janin ialah hasil NST, dan Jumlah cairan ketuban.

Read More......

Baca Juga

First Aid

Popular Posts

Terbaru

Baca Juga

Followers

Statistic

Free Page Rank Tool TopOfBlogs

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Copyright@2009-2012 By Penatalaksanaan Medik | supported by Nurse | Powered By Blogger
Home | Gawat Darurat | Prosedure | Tinjauan Medis | Picture
Contact | Privacy Policy